Ribuan Bisnis Kuliner Se-Asia Tenggara Tumbang, Bandung Justru Jadi Titik Balik Kebangkitan F&B 2026
Besarnya skala ini merepresentasikan tantangan sekaligus peluang strategis yang dihadapi ekosistem kuliner Indonesia: permintaan konsumen yang kuat, namun margin yang terus tergerus akibat lonjakan COGS (Cost of Goods Sold) atau Harga Pokok Penjualan (HPP) yang tidak terkontrol.
Co-Founder dan CEO ESB, Gunawan mengatakan bahwa di era 2026, profitabilitas bisnis F&B tidak lagi bisa mengandalkan estimasi atau intuisi semata.
Ekosistem ESB dirancang sebagai ekosistem terintegrasi yang membantu setiap pengusaha kuliner beroperasi lebih efisien, presisi, dan adaptif.
“Di tahun 2026, margin keuntungan tidak lagi bisa mengandalkan estimasi. Memasuki era Lean-Service, kami membantu pelaku usaha di Bandung mengeliminasi berbagai bentuk pemborosan operasional. Melalui Business Intelligence (BI) yang terintegrasi, setiap data transaksi dari berbagai aplikasi ESB dapat diolah menjadi wawasan strategis,” kata Gunawan dalam keterangannya, Sabtu (9/5/2026).
Dalam kesempatan ini, ESB juga menyoroti pentingnya integrasi data berbasis BI yang diperkuat oleh OLIN, asisten pintar berbasis Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini mampu memprediksi target penjualan, mengidentifikasi promosi paling efektif, merekomendasikan kombinasi menu, mendeteksi potensi fraud, dan memantau kesehatan bisnis secara real-time dengan akurasi hingga 98%.
Editor: Abdul Basir