Terungkap di Sidang, Dugaan Suap Impor Disebut Mengalir ke Sejumlah Institusi
Menurut Gautama, sistem impor Indonesia bekerja melalui banyak lapisan kewenangan. Di dalamnya terdapat Kemendag, BPOM, Kementerian Perindustrian, Karantina, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kesehatan, BSN, DJBC, operator pelabuhan, perusahaan pelayaran, PPJK, forwarder, importir, hingga distributor.
Karena itu, apabila terdapat dugaan pengondisian dalam sistem impor, sangat sulit membayangkan seluruh proses tersebut hanya melibatkan satu kelompok pejabat. Kompleksitas kewenangan menunjukkan adanya banyak titik yang berpotensi memengaruhi keputusan.
Jangan Berhenti pada "Warna Biru"
Gautama menilai perkara Blue Ray belum memberikan gambaran utuh mengenai jaringan pengaruh dalam tata kelola impor nasional. Fakta yang terungkap sejauh ini baru memperlihatkan sebagian simpul yang berhasil dijangkau penyidik.
Penyidikan telah membuka dugaan hubungan antara pelaku usaha dan oknum DJBC yang disebut sebagai "warna biru". Persidangan kemudian menghadirkan informasi mengenai dugaan aliran dana ke pihak lain di luar DJBC, namun perkembangan hukum terhadap temuan tersebut belum terlihat setara.
Karena itu, menurut Gautama, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi soal siapa yang menerima uang. Fokus yang seharusnya diuji adalah siapa yang memiliki kemampuan memengaruhi keputusan dalam rantai impor nasional.
Ia menegaskan bahwa dalam ilmu kontra intelijen, pusat jaringan hampir tidak pernah berada pada simpul yang paling terlihat. Jika pembongkaran hanya berhenti pada "warna biru", sementara warna lain yang mulai muncul di persidangan tidak ditelusuri hingga tuntas, maka tujuan memperbaiki sistem impor secara menyeluruh dikhawatirkan tidak akan tercapai.
Menurutnya, perkara Blue Ray semestinya menjadi momentum untuk memetakan seluruh jaringan pengaruh dalam ekosistem impor. Sebab selama masih ada bagian yang belum terungkap, ruang bagi praktik korupsi dengan pola serupa akan tetap terbuka meski dijalankan oleh aktor yang berbeda. (*)
Editor : Abdul Basir