Pemda KBB Kesulitan Mencari Lahan Seluas 4 Hektare untuk Pengganti TPA Sarimukti
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Pemda Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih kesulitan mencari lahan yang diperuntukan bagi lokasi tempat pembuangan akhir sampah.
Rencana ini disiapkan sebagai antisipasi TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, KBB, ditutup karena overload. Sehingga Pemda KBB membutuhkan lahan sendiri untuk pembuangan sampahnya.
Ketua Komisi III DPRD KBB, Pither Tjuandys mengatakan, rencana pembebasan lahan yang ditargetkan untuk TPA berukuran ideal 3–4 hektare. Namun sampai sekarang masih terhalang ketersediaan.
"Sekarang baru ada lahan sekitar 1,8 hektare. Namun itu juga hasil pengukuran ulang tim BPN menunjukkan luas efektif hanya 1,5 hektar, sehingga ada selisih sekitar 3.000 meter persegi dibandingkan surat pernyataan pemilik," ucapnya saat monitoring ke wilayah Cipatat, Desa Sarimukti, bersama Komisi IV, Rabu (8/7/2026).
Rencana pembangunan TPA khusus milik pemerintah daerah di kawasan Sarimukti, Cipatat, ini sudah direncanakan sejak lama.
Pasalnya setiap harinya Bandung Barat menghasilkan sekitar 700 ton sampah, sementara kapasitas pembuangan ke TPA Sarimukti yang ada kini hanya mampu menampung 150 ton.
Sehingga tersisa lebih dari 550 ton yang belum memiliki tempat penampungan jangka panjang.
Di tempat yang sama Ketua Komisi IV DPRD KBB, Nur Djulaeha menambahkan, pemilik lahan menolak menyerahkan tanah jika tidak sesuai dengan dokumen yang dimilikinya, sehingga proses pembebasan terhenti total.
“Kondisi ini berbahaya. Sampah tidak bisa ditampung semestinya, muncul tumpukan di mana-mana, dan keluhan warga terus mengalir," kata Nur.
Adapun selama ini pihaknya sering menerima laporan mengenai dampak sosial dari masyarakat sekitar terkait kondisi TPA Sarimukti yang sudah overload. Sehingga banyak sampah-sampah di lingkungan masyarakat yang tidak terangkut.
"Konsen kami dari Komisi IV adalah ke masalah sosialnya. Ini butuh solusi cepat agar Bandung Barat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada fasilitas bersama,” tegasnya.
Sementara itu Pranata Layanan Operasional Disperkim KBB, Edward Renaldo, menyebutkan saat ini telah memiliki dua opsi. Yakni berupaya menyelesaikan selisih luas lahan di Sarimukti atau mencari lokasi baru yang layak dan memenuhi syarat teknis.
"Kepastian lokasi baru akan melibatkan kajian DLH serta tata ruang daerah, mengingat kebutuhan mendesak untuk mengakhiri ketergantungan pada TPA regional yang sebentar lagi beroperasi penuh dengan sistem pembagian kuota antarwilayah," ucapnya. (*)
Editor : Rizki Maulana