Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Edelweiss Hospital Jemput Bola Hadirkan Layanan Kesehatan Bagi Warga Bandung
Advertisement . Scroll to see content

Kebanyakan Baca Berita Negatif Bisa Bikin Stres, Waspada Bahaya Doomscrolling!

Senin, 21 September 2026 | 11:43 WIB
  • author Susana
Kebanyakan Baca Berita Negatif Bisa Bikin Stres, Waspada Bahaya Doomscrolling!
Direktur Astacita Strategic Consultant, Abizar Machmud. Foto: Ist.

Pertama, menyaring informasi.

Masyarakat dapat membatasi durasi membaca berita berat atau negatif dalam sehari. Bukan berarti menghindari informasi penting, tetapi memberikan batas agar konsumsi informasi tidak berlangsung tanpa jeda.

Langkah tersebut sejalan dengan anjuran WHO yang menyarankan pembatasan waktu mengikuti berita apabila aktivitas tersebut meningkatkan stres.

Kedua, menghormati perbedaan.

Setiap orang memiliki sudut pandang dan cara berbeda dalam merespons sebuah isu. Tidak semua orang harus menunjukkan reaksi emosional yang sama terhadap persoalan yang sedang ramai dibicarakan.

Ketiga, mengalihkan energi ke aksi nyata.

Perdebatan panjang di kolom komentar tidak selalu menghasilkan perubahan. Karena itu, energi yang biasanya habis untuk mengikuti konflik digital dapat dialihkan ke aktivitas yang lebih konkret dan produktif di dunia nyata.

Bukan Berarti Harus Berhenti Membaca Berita

Mengurangi konsumsi berita negatif bukan berarti masyarakat harus menutup diri dari informasi.

Berita tetap memiliki fungsi penting untuk membantu masyarakat memahami berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Yang perlu diperhatikan adalah pola konsumsinya.

Penelitian mengenai doomscrolling menunjukkan bahwa konsumsi berita negatif secara berulang dapat berkaitan dengan proses psikologis seperti rumination, yakni kecenderungan terus memikirkan hal-hal negatif. Studi lain juga menemukan hubungan antara doomscrolling dengan kesejahteraan mental.

Karena itu, kemampuan memilih informasi menjadi semakin penting di era digital.

Masyarakat tetap membutuhkan berita, tetapi juga membutuhkan jeda.

Pada akhirnya, digital hygiene bukan tentang menghindari informasi, melainkan mengatur hubungan dengan informasi. Dengan membatasi paparan yang membuat stres, tetap membuka ruang bagi perbedaan pendapat, serta mengarahkan energi pada aktivitas produktif, penggunaan media digital dapat menjadi lebih sehat dan terkendali.

Editor: Rizal Fadillah

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut