Peta Kerawanan Tembus 24 Ribu Hektare
Secara keseluruhan, wilayah yang terancam paparan gelombang tsunami di pesisir selatan Jabar mencapai 24.868 hektare. Mayoritas kawasan tersebut—yakni seluas 20.784 hektare—berada pada kategori bahaya tinggi, sedangkan 1.448 hektare masuk bahaya sedang, dan 2.636 hektare kategori rendah. Dari lima daerah yang dipetakan, Kabupaten Sukabumi mencatatkan area terdampak paling luas, mencapai 6.546 hektare.
Dalam pemodelan berbasis kajian BMKG 2025, skenario terburuk mengasumsikan terjadinya gempa bumi bermagnitudo 8,7 pada kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer di kedua segmen tersebut.
Berdasarkan pemodelan tersebut, perkiraan tinggi gelombang dan estimasi waktu tiba air laut di beberapa titik meliputi:
Palabuhanratu (Kabupaten Sukabumi): Tsunami diperkirakan mencapai ketinggian puncak 15,9 meter dan menyapu pesisir depan PLTU Palabuhanratu dalam waktu 18 menit.
Kabupaten Cianjur: Gelombang setinggi 9 meter diproyeksikan menghempas kawasan Pantai Dudukuy, dengan waktu kedatangan air laut sekitar 12 menit di Pantai Sereg.
Pameungpeuk (Kabupaten Garut): Ketinggian gelombang maksimum diestimasi menyentuh 19 meter dengan jeda waktu tiba sekitar 10–15 menit.
Cipatujah & Ciandum (Kabupaten Tasikmalaya): Berpotensi diterjang gelombang tertinggi mencapai 23 meter dalam durasi kedatangan 15 menit.
Kabupaten Pangandaran: Pantai timur diprediksi mengalami hempasan gelombang setinggi 14 meter, dengan waktu tiba relatif lebih lama, yakni sekitar 42 menit.
BPBD menegaskan bahwa deretan angka ini merupakan pemodelan skenario ilmiah untuk kesiapsiagaan, bukan ramalan bahwa bencana akan melanda dalam waktu dekat.
Meski demikian, kondisi demografi dan keberadaan pemukiman padat membuat beberapa titik memerlukan perlakuan khusus. Edy menyoroti wilayah yang memiliki tingkat kerentanan paling kompleks saat proses evakuasi.
"Kalau dilihat dari asumsi dampak terhadap penduduk terpapar, rumah dan infrastruktur maka Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Garut dan Kabupaten Sukabumi memiliki tingkat kerawanan dan tantangan evakuasi," ujarnya.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
