Pacuan Waktu dan Kerentanan Warga
Tantangan terbesar dalam merespons ancaman tsunami megathrust adalah sempitnya golden time atau jeda waktu untuk menyelamatkan diri. Menurut Edy, kecepatan respons warga harus diasah melalui edukasi terstruktur dan penyediaan fasilitas evakuasi yang memadai.
"Waktu tersebut memang cukup krusial untuk melakukan langkah-langkah evakuasi untuk menyelamatkan diri sehingga perlu dilakukan langkah-langkah edukasi kepada masyarakat, menyusun Tim Siaga Bencana kewilayahan, latihan dan simulasi secara rutin serta menetapkan tempat titik kumpul atau shelter-shelter yang terdekat dan aman," katanya.
Pemerintah Provinsi Jabar sendiri sebenarnya telah menggelar serangkaian uji coba evakuasi, seperti simulasi di Pantai Pangandaran pada 2023 yang menguji respons warga dalam rentang 10–15 menit setelah gempa. Langkah edukasi lapangan juga diperluas hingga kawasan Garut Selatan melalui ajang Ekspedisi Jabar Selatan pada 2024.
Walau berbagai program mitigasi rutin digulirkan, BPBD mengakui tingkat kesiapsiagaan masyarakat di lapangan belum sepenuhnya ideal untuk menghadapi skenario terburuk.
"Belum yakin semuanya dapat menyelamatkan diri mengingat masih terdapat kerentanan yang ada di masyarakat, baik itu dilihat dari kerentanan sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan," kata Edy.
Ia menambahkan, upaya menekan risiko bencana tidak bisa mengandalkan pemerintah daerah semata. Sinergi lintas sektor—termasuk keterlibatan aktif warga, pelaku usaha pariwisata, hingga komunitas lokal—menjadi kunci utama.
"Untuk itu kerja sama seluruh pihak (pentahelix) dalam upaya bersama membangun kesadaran ini sangat penting dan tidak harus saling menunggu, inisiatif semua pihak sangat diperlukan," ujarnya.
Langkah penyusunan rencana kontingensi ini diharapkan menjadi pijakan kuat bagi seluruh pihak di Jawa Barat agar saat bencana tak terduga terjadi, jatuhnya korban jiwa dapat ditekan seminimal mungkin.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
