"Perubahan fokus yang terus menerus ini membuat publik bingung: sebenarnya perkara apa yang sedang diusut? Apakah ini perkara suap Blue Ray Cargo, atau perkara gratifikasi umum di Bea Cukai, atau perkara penyelundupan di Tanjung Emas? Jika tidak ada koordinasi dan pemisahan klaster yang jelas, KPK terlihat seperti kehilangan peta," kritik Gautama.
Walau banjir kritik, para analis tetap memberikan apresiasi atas keberhasilan OTT awal Blue Ray Cargo. Kendati demikian, evaluasi mendasar di internal KPK mutlak diperlukan agar publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.
"Apakah karena tekanan politik? Apakah karena keterbatasan SDM? Atau karena sejak awal pimpinan KPK sudah mengarahkan agar perkara tidak melebar ke pihak tertentu? Publik berhak tahu," ujar dia.
Sebagai penutup, Gautama mengingatkan bahwa megaproyek pembongkaran korupsi impor ini adalah ujian integritas bagi KPK. Jika penindakan hanya mandek pada level penerima suap tanpa berani meruntuhkan akar jaringannya, maka praktik culas serupa dipastikan akan terus berulang di masa depan.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
